Minggu, 12 April 2015

tugas portofolio 2: Kreativitas dan Keberbakatan



A.     TEORI – TEORI MENGENAI KREATIVITAS

I. Teori mengenai kreativitas meliputi :
a. Motivasi Intrinsik dari Kreativitas
Motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam individu. Artinya, seseorang melakukan tindakan atau perilaku  tidak berasal dari motif-motif atau dorongan-dorongan yang berasal dari luar diri. Motivasi intrinsik merupakan motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Motivasi Intrinsik juga dikatakan sebagai motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri).
Kreativitas setiap individu, dalam organisasi sebagai ilustrasi, ditentukan oleh tiga komponen yaitu keahlian, keterampilan berpikir kreatif, dan motivasi. Keterampilan berpikir kreatif menentukan seberapa fleksibel dan imajinatif orang-orang dalam organisasi saat menghadapi masalah. Niat dari dalam diri untuk memecahkan masalah yang ada, biasanya justru membawa pada solusi-solusi yang lebih kreatif. Ketimbang misalnya bila motivasi memecahkan masalah itu muncul atau ada karena ingin memperoleh imbalan finansial. Komponen motivasi ini disebut motivasi intrinsik. Ini merupakan salah satu motivasi yang dapat dengan cepat dipengaruhi keberadaannya oleh kondisi lingkungan kerja.
Ambile menyatakan suatu produk atau respon disebut kreatif apabila beberapa penelitian yang sesuai secara bebas menyetujui bahwa itu disebut kreatif. Peneliti yang sesuai dalam kompetensi melukis, arsitek dalam kompetensi disain dan penulis (writers) dalam kompotensi mengarang. Dengan menggunakan teknik penilaian konsensus terhadap Kreativitas seperti tersebut di atas, Ambile dan teman-teman telah melakukan berbagai studi empiris yang menekankan motivasi intrinsik, yang menyenangi apa yang sedang ia lakukan, dengan tingkah laku kreatif. Peran penting dari motivasi instrinsik digambarkan oleh Amabile (dalam Ng Aik Kwang, 2001:6) dalam model komponen Kreativitas yang terdiri dari tiga komponen penting:
a.    Keterampilan dalam ranah yang relevan (domain-relevant skill) yang mengacu pada pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang berkaitan dengan ranah khusus dimana seorang yang kreatif tertarik.
b.    Keterampilan yang relevan dengan Kreativitas (creativity-relevant skill) yang mengacu pada kemampuan kognisi, seperti kemampuan berpikiran divergen, sebaik seperti ciri-ciri kepribadian seperti keterbukaan terhadap pengalaman, kecondongan (penchant) mengambil resiko, toleransi yang besar terhadap kebermaknaan ganda (ambiquitas).
c.    Terakhir adalah motivasi intrinsik yang mengacu pada keinginan untuk melakukan suatu tugas yang masih dipertanyakan. Tanpa adanya motivasi instrinsik ini, ia akan mengahadapi kesulitan kesulitan untuk tetap pada jalurnya atau pendapatnya, terutama dengan banyaknya hambatan yang ia hadapi, misalnya hadiah eksternal yang mempengaruhi untuk meninggalkan idenya.


b. Kondisi Eksternal Yang Mendorong Perilaku Kreatif
Carl Rogers (dalam Vernon, 1982) menegaskan bahwa satu persyaratan utama bagi berkembangannya kreativitas suatu bangsa adalah adanya kebebasan. Kebebasan untuk berpikir, menyatakan pikiran, mencipta, yang dapat kita ringkaskan pada moyangnya segala rupa kebebasan yang menjadi hak asasi manusia, yakni adanya kebebasan melakukan pilihan (freedom of choice).
Menurut pengalaman Rogers dalam psikoterapi, penciptaan kondisi keamanan dan kebebasan psikologis memungkinkan timbulnya kreatifitas yang konstruktif.
1)    Keamanan Psikologis
·         Menerima individu sebagaimana adanya dengan segala kelebihan dan keterbatasannya (memberi kepercayaan, yang dapat memberi efek menghayati suasana keamanan).
·         Mengusahakan suasana yang ada didalamnya evaluasi eksternal tidak ada (atau sekurang-kurangnya tidak bersifat atau punya mempunyai efek mengancam).
·         Memberikan pengertian secara empatis (dapat ikut menghayati) perasaan, pemikiran, tindakan serta dapat melihat sudut pandang, dan tetap menerimanya, memberi rasa aman.
2)    Kebebasan Psikologis
Jika setiap orang memiliki kesempatan untuk bebas mengeksperiskan secara simbolis pikiran-pikiran atau perasaan-perasaannya,  permissiveness ini memberikan pada seseorang kebebasan dalam berpikir atau merasakan sesuai dengan apa yang ada dalam dirinya. Mengekspresikan tindakan konkret perasaan-perasaannya (misalnya dengan memukul) tidak selalu dimungkinkan, karena hidup dalam masyarakat selalu ada batas-batasnya, tetapi eksperesi secara simbolis hendaknya dimungkinkan.
Menurut Simpson dalam Vernon (1982 dalam Utami Munandar 1999:28) dorongan internal merupakan: “the intiative that one manifest by his power to break away from the usual sequence pf thought”. Insitiatif yang dimanisfestasikan dengan dorongan untuk keluar dari seluruh pemikiran biasa. Mengenai dorongan dari lingkungan, ada lingkungan yang tidak menghargai imajinasi atau fantasi dan menekankan Kreativitas dan inovasi, kreativitas juga tidak akam berkembang dalam budaya yang terlalu menekan konformitas dan tradisi yang kurang terbuka terhadap perubahan atau perkembangan baru (Utami Munandar 1999:28-29).

II.        Teori Yang Melandasi Proses Kreatif Meliputi :

a.      Teori Wallas
Teori wallas dikemukakan tahun 1926 dalam bukunya “the art of thought” (Piirto, 1992), yang menyatakan bahwa proses kreatif meliputi empat tahap, yaitu 
·         persiapan
·         inkubasi
·         iluminasi
·         verifikasi
1)    Sesorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan cara berfikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang dan sebagainya.
2)    Tahap dimana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut, dalam arti bahwa ia tidak memikirkan masalahnya secara sadar, tetapi “mengeramnya” dalam alam pra-sadar.
3)    Tahap timbulnya “insight” atau Aha-Erlebnis” saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru, beserta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi/gagasan baru.
4)    Tahap dimana ide atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas. Disini diperlukan pemikiran kritis dan konvergen. Dengan kata lain, proses divergensi (pemikiran kreatif) harus diikuti oleh proses konvergensi (pemikiran kritis).
Cropley (1994) menunjukkan hubungan antara tahap-tahap proses kreatif dari Wallas (persiapan, inkubasi, iluminasi, verifikasi) dan produk yang psikologis yang berinteraksi : hasil berpikir konvergen , memperoleh pengetahuan dan ketrampilan, jika dihadapkan dengan situasi yang menuntut tindakan yaitu pemecahan masalah  individu menggabungkan unsur-unsur mental sampai timbul “konfigurasi”. Konfigurasi dapat berupa gagasan, model, tindakan cara menyusun kata, melodi atau bentuk.

.       b.  Teori tentang Belahan Otak Kanan-Kiri
Pendekatan psiko-biologis kreativitas adalah pembahasan yang mencoba menjelaskan kreativitas dengan berdasarkan fungsi biologis organ tubuh manusia khususnya fungsi otak. Otak besar (cortex) terbagi atas dua belahan yang dihubungkan oleh sebuah bundelan serabut yang saling menghubungkan (interconnecting) yang disebut sebagai corpus callosum. Belahan kanan korteks berfungsi untuk mengontrol tubuh bagian kiri, dan belahan kiri korteks mengontrol tubuh bagian kanan.
Belahan kiri dan kanan otak menanggapi jenis pengalaman yang berbeda dan menanggapinya secara khas. Wittrock (1980 dalam Clark, 1988) menyatakan bahwa kedua belahan otak boleh berbeda satu sama lain karena strategi pengodean yang digunakan dan bukan karena jenis informasi yang dikodekan. Menurut teori ini, belahan otak kiri bertanggung jawab bagi pemikian linear, sequential, analytic dan rational. Sedangkan pemikiran-pemikiran metaphoric, spatial, holistic merupakan tanggang jawab belahan otak kanan.

Bagan Proses Pimikiran Otak
              
Otak Kiri
Otak kanan
Vertikal
Kritis
Strategis
Analistis
Lateral
Hasil
Kreatif

Keterangan:
·         Berpikir Vertikal. Suatu proses bergerak selangkah demi selangkah menuju tujuan Anda, seolah-olah Anda sedang menaiki tangga.
·         Berpikir Lateral. Melihat permasalahan Anda dari beberapa sudut baru, seolah-olah melompat dari satu tangga ke tangga lainnya.
·         Berpikir Kritis. Berlatih atau memasukkan penilaian atau evaluasi yang cermat, seperti menilai kelayakan suatu gagasan atau produk.
·         Berpikir Analitis. Suatu proses memecahkan masalah atau gagasan Anda menjadi bagian-bagian.  Menguji setiap bagian untuk melihat bagaimana bagian tersebut saling cocok satu sama lain, dan mengeksplorasi bagaimana bagian-bagian ini dapat dikombinasikan kembali dengan cara-cara baru.
·         Berpikir Strategis. Mengembangkan strategi khusus untuk perencanaan dan arah operasi-operasi skala besar dengan melihat proyek itu dari semua sudut yang mungkin.
·         Berpikir tentang Hasil. Meninjau tugas dari perspektif solusi yang dikehendaki.
·         Berpikir Kreatif. Berpikir kreatif adalah pemecahan masalah dengan menggunakan kombinasi dari semua proses.  
Sumber: Clark (1988) : Growing up gifted
Perlu diingat bahwa kedua belahan otak kanan dan kiri berfungsi saling melengkapi, bekerja secara kooperatif dalam memproses informasi (Clark, 1988). Sedangkan dikotomi mental sebagai tercemin dalam uraian fungsi belahan otak kanan dan belahan otak kiri oleh Springer, S.P dan Deuthsch, G. (1981 dalam Utami Munandar 1999). 
Dari pandangan Wittrock (1980) dan Spinger dan Deutch (1981) jelaslah bahwa kreativitas merupakan fungsi belahan otak kanan, tercermin dari fungsi divergen, metaforik, intuitif, sintesis, holistik yang semua fungsi tersebut merupakan fungsi kreativitas.
 Otak dapat distimulus agar memiliki rangsang yang baik. Jika otak memiliki rangsang yang baik, maka tidak diragukan lagi kinerjanya. Otak kiri memiliki fungsi atau peranan yang lebih dibanding otak kanan ketika kita sedang berpikir, tentang intelegensi seseorang, dan rasionalitas, sedangkan otak kanan manusia memiliki kecenderungan dalam keindahan, seni, dan kegiatan non verbal.



III.             Ciri-ciri yang melandasi produk kreatif:
            
a. Hukum paten dalam Penilaian Produk Penemuan:
Hukum paten AS mempertimbangkan unsur-unsur berikut dalam memberikan hak paten:
-          Kegiatan intelektual yang bermutu
-          Gagasannya jelas
-          Jumlah eksperimentasi penting
-          Telah mengalami kegagalan
-          Berguna dan merupakan kemajuan
-          Kreatif
-          Harus memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi
Patokan dari hokum paten cukup membantu,tetapi tidak spesifik untuk penilaian secara ilmiah dibutuhkan perangkat criteria yang disetujui untuk menilai produk kreatif dan kemampuan kreatif.

b. Model dari Basemer dan Treffinger:
B&T menyarankan bahwa produk kreatif dapat digolongkan menjadi tiga kategori,yaitu:
1.      Kebaruan(novelty). Sejauh mana produk itu baru,tekhnik baru,bahan dan konsep baru,dampak produk terhadap masa depan
2.      Pemecahan(resolution). Menyangkut derajat sejauh mana produk itu memenuhi kebutuhan dari situasi bermasalah. Produk yang dihasilkan harus bermakna,logis,dan berguna karena dapat diterapkan secara praktis.
3.      Elaborasi dan sintesis. Sejauh mana produk itu menggabung unsur-unsur yang tidak sama menjadi keseluruhan yang canggih dan koheren. Produk yang dihasilkan harus organis,elegan,kompleks,dapat dipahami,dan menunjukkan keterampilan.

B.     KEBERBAKATAN DAN KREATIVITAS
I. Pengertian keberbakatan dan kaitannya dengan pengertian kreatvitas yang meliputi :
A.    Pengertian Keberbakatan
Apa yang dimaksud “ keberbakatan” dan “ anak berbakat”? Dalam kepustakaan yang ditemukan berbagai istilah dan definisi mengenai anak berbakat dan keberbakatan. Istilah ini yang menunjukkan suatu perkembangan dari pendekatan “uni-dimensional” ( seperti definisi dari Terman yang menggunakan inteligensi sebagai criteria tunggal untuk mengidentifikasi anak berbakat, yaitu IQ 140) ke pendekatan “ multi-dimensional “. Pendekatan ini yang mengakui keragaman konsep dan kriteria keberbakatan, yaitu memerlukan cara – cara dan alat – alat yang berbeda – beda pula untuk mengidentifikasinya.
Kemampuan – kemampuan keberbakatan tersebut, baik secara potensional maupun yang telah nyata, meliputi :
A.    Kemampuan intelektual umum.
B.     Kemampuan akademik khusus.
C.     Kemampuan berpikir kreatif – produktif.
D.    Kemampuan memimpin.
E.     Kemampuan dalam salah satu bidang seni.
F.      Kemampuan psikomotor ( seperti dalam olahraga).

B.     Pengertian kreativitas
Salah satu masalah yang kritis dalam meneliti, mengidentifikasi, dan mengembangkan kreativitas ialah bahwa ada begitu banyak definisi tentang kreativitas, tetapi tidak ada satu definisi pun yang dapat diterima secara universal. Mengingat kompleksitas dari konsep kreativitas, agaknya hal ini tidak mungkin dan tidak perlu, karena kreativitas dapat ditinjau dari berbagai aspek, yang kendatipun saling berkaitan tetapi penekanannya berbeda – beda. Rodhes (1961, dalam Isaksen, 1987) dalam menganalisis lebih dari 40 definisi tentang kreativitas, menyimpulkan bahwa pada umumnya kreativitas dirumuskan dalam istilah pribadi (person),proses, dan produk.

C.     Hubungan keberbakatan dan kreativitas.
Konsepsi “ Three-Ring Conception” dari Renzulli dan kawan – kawan ( 1981), yang menyatakan bahwa tiga ciri pokok yang merupakan kriteria ( persyaratan) keberbakatan ialah keterkaitan antara :
·         Kemampuan diatas rata – rata
Salah satu kesalahan dalam identifikasi anak berbakat ialah anggapan bahwa hanya kecerdasan dan kecakapan sebagaimana diukur dengan tes prestasi belajar yang menentukan keberbakatan dan produktivitas kreatif seseorang. Bahkan Terman ( 1959) yang dalam penelitiannya terhadap anak berbakat hanya menggunakan kriteria inteligen, dalam tulisan – tulisannya kemudian mengakui bahwa inteligensi tinggi tidak sinonim dengan keberbakatan. Wallach ( 1976 ) pun menunjukkan bahwa mencapai skor tertinggi pada tes akademis belum tentu mencerminkan potensi untuk kinerja kreatif produktif.
Dalam istilah “ kemampuan umum” tercakup barbagai bidang kemampuan yang biasanya diukur oleh tes inteligensi, prestasi, bakat, kemampuan, mental primer, dan berpikir kreatif. Sebagai contoh adalah penalaran, verbal numerical, kemampuan spasial, kelancaran dalam memberikan ide, dan orisinalitas. Kemampuan umum ini merupakan salah atu kelompok keberbakatan di samping kreativitas dan “task – commitment”.
·         Kreativitas diatas rata -rata
Kelompok ( cluster) kedua yang dimiliki anak / orang berbakat ialah kreativitas sebagai kemampuan umum untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan memberikan gagasan – gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk  melihat hubungan – hubungan baru antara unsur – unsur yang sudah ada sebelumnya.
·         Pengikatan diri terhadap tugas
Kelompok karakteristik yang ketiga yang ditemukan pada individu yang kreatif produktif ialah pengikatan diri terhadap tugas sebagai bentuk motivasi yang internal yang mendorong seseorang untuk tekun dan ulet mengerjakan tugasnya, meskipun mengalami macam – macam rintangan atau hambatan, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, karena ia telah mengikatkan diri terhadap tugas tersebut atas kehendaknya sendiri.
Galton meskipun menganut pandangan dasar genetis untuk keberbakatan dan “ genius “, namun dia percaya bahwa motivasi intrinsic dan kapasitas untuk bekerja keras merupakan kondisi yang perlu untuk mencapai prestasi unggul.
Manfaat dari definisi Renzulli ialah melihat keterkaitan antara tiga kelompok ciri sebagai persyaratan keberbakatan: kemampuan umum, kreativitas, dan motivasi ( pengikatan diri terhadap tugas).
Jadi, menurut definisi Renzulli, seseorang yang memiliki kreativitas pasti berbakat, tetapi seseorang yang berbakat belum tentu memiliki kreativitas.

kelompok 6 : Nia Kezia Naftalin
                    Sheila Henggriani
                         Venta Oktavia
Kelas : 1 PA 14