A. TEORI –
TEORI MENGENAI KREATIVITAS
I. Teori mengenai kreativitas
meliputi :
a.
Motivasi Intrinsik dari Kreativitas
Motivasi
intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam individu. Artinya, seseorang
melakukan tindakan atau perilaku tidak berasal dari motif-motif atau
dorongan-dorongan yang berasal dari luar diri. Motivasi intrinsik
merupakan motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu
dirangsang dari luar karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk
melakukan sesuatu. Motivasi Intrinsik juga dikatakan sebagai motivasi
internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri).
Kreativitas setiap individu, dalam
organisasi sebagai ilustrasi, ditentukan oleh tiga komponen yaitu keahlian,
keterampilan berpikir kreatif, dan motivasi. Keterampilan berpikir kreatif
menentukan seberapa fleksibel dan imajinatif orang-orang dalam organisasi saat
menghadapi masalah. Niat dari dalam diri untuk memecahkan masalah yang
ada, biasanya justru membawa pada solusi-solusi yang lebih kreatif. Ketimbang
misalnya bila motivasi memecahkan masalah itu muncul atau ada karena ingin
memperoleh imbalan finansial. Komponen motivasi ini disebut motivasi intrinsik.
Ini merupakan salah satu motivasi yang dapat dengan cepat dipengaruhi
keberadaannya oleh kondisi lingkungan kerja.
Ambile menyatakan suatu produk
atau respon disebut kreatif apabila beberapa penelitian yang sesuai secara
bebas menyetujui bahwa itu disebut kreatif. Peneliti yang sesuai dalam
kompetensi melukis, arsitek dalam kompetensi disain dan penulis (writers) dalam
kompotensi mengarang. Dengan menggunakan teknik penilaian konsensus terhadap
Kreativitas seperti tersebut di atas, Ambile dan teman-teman telah melakukan
berbagai studi empiris yang menekankan motivasi intrinsik, yang menyenangi apa
yang sedang ia lakukan, dengan tingkah laku kreatif. Peran penting dari
motivasi instrinsik digambarkan oleh Amabile (dalam Ng Aik Kwang, 2001:6) dalam
model komponen Kreativitas yang terdiri dari tiga komponen penting:
a. Keterampilan
dalam ranah yang relevan (domain-relevant skill) yang mengacu pada pengetahuan,
keterampilan dan kemampuan yang berkaitan dengan ranah khusus dimana seorang
yang kreatif tertarik.
b. Keterampilan
yang relevan dengan Kreativitas (creativity-relevant skill) yang mengacu pada
kemampuan kognisi, seperti kemampuan berpikiran divergen, sebaik seperti
ciri-ciri kepribadian seperti keterbukaan terhadap pengalaman, kecondongan
(penchant) mengambil resiko, toleransi yang besar terhadap kebermaknaan ganda
(ambiquitas).
c. Terakhir
adalah motivasi intrinsik yang mengacu pada keinginan untuk melakukan suatu
tugas yang masih dipertanyakan. Tanpa adanya motivasi instrinsik ini, ia akan
mengahadapi kesulitan kesulitan untuk tetap pada jalurnya atau pendapatnya,
terutama dengan banyaknya hambatan yang ia hadapi, misalnya hadiah eksternal yang
mempengaruhi untuk meninggalkan idenya.
b.
Kondisi Eksternal Yang Mendorong Perilaku Kreatif
Carl
Rogers (dalam Vernon, 1982) menegaskan bahwa satu persyaratan utama bagi
berkembangannya kreativitas suatu bangsa adalah adanya kebebasan. Kebebasan
untuk berpikir, menyatakan pikiran, mencipta, yang dapat kita ringkaskan pada
moyangnya segala rupa kebebasan yang menjadi hak asasi manusia, yakni adanya
kebebasan melakukan pilihan (freedom of choice).
Menurut pengalaman Rogers dalam
psikoterapi, penciptaan kondisi keamanan dan kebebasan psikologis memungkinkan
timbulnya kreatifitas yang konstruktif.
1) Keamanan
Psikologis
·
Menerima individu sebagaimana adanya dengan segala kelebihan dan
keterbatasannya (memberi kepercayaan, yang dapat memberi efek menghayati
suasana keamanan).
·
Mengusahakan suasana yang ada didalamnya evaluasi eksternal tidak ada (atau
sekurang-kurangnya tidak bersifat atau punya mempunyai efek mengancam).
·
Memberikan pengertian secara empatis (dapat ikut menghayati) perasaan,
pemikiran, tindakan serta dapat melihat sudut pandang, dan tetap menerimanya,
memberi rasa aman.
2) Kebebasan
Psikologis
Jika setiap orang memiliki
kesempatan untuk bebas mengeksperiskan secara simbolis pikiran-pikiran atau
perasaan-perasaannya, permissiveness ini memberikan pada seseorang
kebebasan dalam berpikir atau merasakan sesuai dengan apa yang ada dalam
dirinya. Mengekspresikan tindakan konkret perasaan-perasaannya (misalnya dengan
memukul) tidak selalu dimungkinkan, karena hidup dalam masyarakat selalu ada
batas-batasnya, tetapi eksperesi secara simbolis hendaknya dimungkinkan.
Menurut Simpson dalam
Vernon (1982 dalam Utami Munandar 1999:28) dorongan internal merupakan:
“the intiative that one manifest by his power to break away from the usual
sequence pf thought”. Insitiatif yang dimanisfestasikan dengan dorongan untuk
keluar dari seluruh pemikiran biasa. Mengenai dorongan dari lingkungan, ada
lingkungan yang tidak menghargai imajinasi atau fantasi dan menekankan
Kreativitas dan inovasi, kreativitas juga tidak akam berkembang dalam budaya
yang terlalu menekan konformitas dan tradisi yang kurang terbuka terhadap
perubahan atau perkembangan baru (Utami Munandar 1999:28-29).
II.
Teori Yang Melandasi Proses Kreatif Meliputi :
a.
Teori Wallas
Teori wallas dikemukakan tahun 1926
dalam bukunya “the art of thought” (Piirto, 1992), yang menyatakan bahwa proses
kreatif meliputi empat tahap, yaitu
·
persiapan
·
inkubasi
·
iluminasi
·
verifikasi
1) Sesorang
mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan cara berfikir, mencari
jawaban, bertanya kepada orang dan sebagainya.
2) Tahap
dimana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah
tersebut, dalam arti bahwa ia tidak memikirkan masalahnya secara sadar, tetapi
“mengeramnya” dalam alam pra-sadar.
3) Tahap
timbulnya “insight” atau Aha-Erlebnis” saat timbulnya inspirasi atau
gagasan baru, beserta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya
inspirasi/gagasan baru.
4) Tahap
dimana ide atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas. Disini
diperlukan pemikiran kritis dan konvergen. Dengan kata lain, proses divergensi
(pemikiran kreatif) harus diikuti oleh proses konvergensi (pemikiran kritis).
Cropley (1994) menunjukkan hubungan
antara tahap-tahap proses kreatif dari Wallas (persiapan, inkubasi, iluminasi,
verifikasi) dan produk yang psikologis yang berinteraksi : hasil berpikir
konvergen , memperoleh pengetahuan dan ketrampilan, jika dihadapkan dengan
situasi yang menuntut tindakan yaitu pemecahan masalah individu
menggabungkan unsur-unsur mental sampai timbul “konfigurasi”. Konfigurasi dapat
berupa gagasan, model, tindakan cara menyusun kata, melodi atau bentuk.
. b.
Teori tentang Belahan Otak Kanan-Kiri
Pendekatan
psiko-biologis kreativitas adalah pembahasan yang mencoba menjelaskan
kreativitas dengan berdasarkan fungsi biologis organ tubuh manusia khususnya
fungsi otak. Otak besar (cortex) terbagi atas dua belahan yang dihubungkan oleh
sebuah bundelan serabut yang saling menghubungkan (interconnecting) yang
disebut sebagai corpus callosum. Belahan kanan korteks berfungsi untuk
mengontrol tubuh bagian kiri, dan belahan kiri korteks mengontrol tubuh bagian
kanan.
Belahan kiri dan kanan otak
menanggapi jenis pengalaman yang berbeda dan menanggapinya secara
khas. Wittrock (1980 dalam Clark, 1988) menyatakan bahwa kedua
belahan otak boleh berbeda satu sama lain karena strategi pengodean yang
digunakan dan bukan karena jenis informasi yang dikodekan. Menurut teori ini,
belahan otak kiri bertanggung jawab bagi pemikian linear, sequential, analytic
dan rational. Sedangkan pemikiran-pemikiran metaphoric, spatial, holistic
merupakan tanggang jawab belahan otak kanan.
Bagan Proses Pimikiran Otak
|
Otak
Kiri
|
Otak
kanan
|
|
Vertikal
Kritis
Strategis
Analistis
|
Lateral
Hasil
Kreatif
|
Keterangan:
·
Berpikir Vertikal. Suatu proses bergerak selangkah demi selangkah menuju tujuan
Anda, seolah-olah Anda sedang menaiki tangga.
·
Berpikir Lateral. Melihat permasalahan Anda dari beberapa sudut baru,
seolah-olah melompat dari satu tangga ke tangga lainnya.
·
Berpikir Kritis. Berlatih atau memasukkan penilaian atau evaluasi yang cermat,
seperti menilai kelayakan suatu gagasan atau produk.
·
Berpikir Analitis. Suatu proses memecahkan masalah atau gagasan Anda menjadi
bagian-bagian. Menguji setiap bagian untuk melihat bagaimana bagian
tersebut saling cocok satu sama lain, dan mengeksplorasi bagaimana
bagian-bagian ini dapat dikombinasikan kembali dengan cara-cara baru.
·
Berpikir Strategis. Mengembangkan strategi khusus untuk perencanaan dan arah
operasi-operasi skala besar dengan melihat proyek itu dari semua sudut yang
mungkin.
·
Berpikir tentang Hasil. Meninjau tugas dari perspektif solusi yang dikehendaki.
·
Berpikir Kreatif. Berpikir kreatif adalah pemecahan masalah dengan menggunakan
kombinasi dari semua proses.
Sumber: Clark (1988) : Growing up
gifted
Perlu diingat bahwa kedua belahan
otak kanan dan kiri berfungsi saling melengkapi, bekerja secara kooperatif
dalam memproses informasi (Clark, 1988). Sedangkan dikotomi mental sebagai
tercemin dalam uraian fungsi belahan otak kanan dan belahan otak kiri
oleh Springer, S.P dan Deuthsch, G. (1981 dalam Utami Munandar
1999).
Dari pandangan Wittrock (1980) dan
Spinger dan Deutch (1981) jelaslah bahwa kreativitas merupakan fungsi belahan
otak kanan, tercermin dari fungsi divergen, metaforik, intuitif, sintesis,
holistik yang semua fungsi tersebut merupakan fungsi kreativitas.
Otak dapat distimulus agar
memiliki rangsang yang baik. Jika otak memiliki rangsang yang baik, maka tidak
diragukan lagi kinerjanya. Otak kiri memiliki fungsi atau peranan yang lebih
dibanding otak kanan ketika kita sedang berpikir, tentang intelegensi
seseorang, dan rasionalitas, sedangkan otak kanan manusia memiliki
kecenderungan dalam keindahan, seni, dan kegiatan non verbal.
III.
Ciri-ciri yang melandasi produk
kreatif:
a. Hukum paten dalam Penilaian
Produk Penemuan:
Hukum paten AS mempertimbangkan
unsur-unsur berikut dalam memberikan hak paten:
-
Kegiatan intelektual yang bermutu
-
Gagasannya jelas
-
Jumlah eksperimentasi penting
-
Telah mengalami kegagalan
-
Berguna dan merupakan kemajuan
-
Kreatif
-
Harus memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi
Patokan dari hokum paten cukup
membantu,tetapi tidak spesifik untuk penilaian secara ilmiah dibutuhkan
perangkat criteria yang disetujui untuk menilai produk kreatif dan kemampuan
kreatif.
b. Model dari Basemer dan
Treffinger:
B&T menyarankan bahwa produk
kreatif dapat digolongkan menjadi tiga kategori,yaitu:
1. Kebaruan(novelty).
Sejauh mana produk itu baru,tekhnik baru,bahan dan konsep baru,dampak produk
terhadap masa depan
2. Pemecahan(resolution).
Menyangkut derajat sejauh mana produk itu memenuhi kebutuhan dari situasi
bermasalah. Produk yang dihasilkan harus bermakna,logis,dan berguna karena
dapat diterapkan secara praktis.
3. Elaborasi
dan sintesis. Sejauh mana produk itu menggabung unsur-unsur yang tidak sama
menjadi keseluruhan yang canggih dan koheren. Produk yang dihasilkan harus
organis,elegan,kompleks,dapat dipahami,dan menunjukkan keterampilan.
B.
KEBERBAKATAN DAN KREATIVITAS
I. Pengertian keberbakatan dan
kaitannya dengan pengertian kreatvitas yang meliputi :
A.
Pengertian Keberbakatan
Apa
yang dimaksud “ keberbakatan” dan “ anak berbakat”? Dalam kepustakaan yang
ditemukan berbagai istilah dan definisi mengenai anak berbakat dan
keberbakatan. Istilah ini yang menunjukkan suatu perkembangan dari pendekatan
“uni-dimensional” ( seperti definisi dari Terman yang menggunakan inteligensi
sebagai criteria tunggal untuk mengidentifikasi anak berbakat, yaitu IQ 140) ke
pendekatan “ multi-dimensional “. Pendekatan ini yang mengakui
keragaman konsep dan kriteria keberbakatan, yaitu memerlukan cara – cara dan
alat – alat yang berbeda – beda pula untuk mengidentifikasinya.
Kemampuan – kemampuan keberbakatan
tersebut, baik secara potensional maupun yang telah nyata, meliputi :
A. Kemampuan
intelektual umum.
B. Kemampuan
akademik khusus.
C. Kemampuan
berpikir kreatif – produktif.
D. Kemampuan
memimpin.
E. Kemampuan
dalam salah satu bidang seni.
F. Kemampuan
psikomotor ( seperti dalam olahraga).
B. Pengertian kreativitas
Salah
satu masalah yang kritis dalam meneliti, mengidentifikasi, dan mengembangkan
kreativitas ialah bahwa ada begitu banyak definisi tentang kreativitas, tetapi
tidak ada satu definisi pun yang dapat diterima secara universal. Mengingat
kompleksitas dari konsep kreativitas, agaknya hal ini tidak mungkin dan tidak perlu,
karena kreativitas dapat ditinjau dari berbagai aspek, yang kendatipun saling
berkaitan tetapi penekanannya berbeda – beda. Rodhes (1961, dalam Isaksen,
1987) dalam menganalisis lebih dari 40 definisi tentang kreativitas,
menyimpulkan bahwa pada umumnya kreativitas dirumuskan dalam
istilah pribadi (person),proses, dan produk.
C. Hubungan keberbakatan dan
kreativitas.
Konsepsi “ Three-Ring
Conception” dari Renzulli dan kawan – kawan ( 1981), yang menyatakan bahwa tiga
ciri pokok yang merupakan kriteria ( persyaratan) keberbakatan ialah
keterkaitan antara :
·
Kemampuan diatas rata – rata
Salah
satu kesalahan dalam identifikasi anak berbakat ialah anggapan bahwa hanya
kecerdasan dan kecakapan sebagaimana diukur dengan tes prestasi belajar yang
menentukan keberbakatan dan produktivitas kreatif seseorang. Bahkan Terman (
1959) yang dalam penelitiannya terhadap anak berbakat hanya menggunakan
kriteria inteligen, dalam tulisan – tulisannya kemudian mengakui bahwa
inteligensi tinggi tidak sinonim dengan keberbakatan. Wallach ( 1976 ) pun
menunjukkan bahwa mencapai skor tertinggi pada tes akademis belum tentu
mencerminkan potensi untuk kinerja kreatif produktif.
Dalam istilah “ kemampuan umum”
tercakup barbagai bidang kemampuan yang biasanya diukur oleh tes inteligensi,
prestasi, bakat, kemampuan, mental primer, dan berpikir kreatif. Sebagai contoh
adalah penalaran, verbal numerical, kemampuan spasial, kelancaran dalam
memberikan ide, dan orisinalitas. Kemampuan umum ini merupakan salah atu
kelompok keberbakatan di samping kreativitas dan “task – commitment”.
·
Kreativitas diatas rata -rata
Kelompok
( cluster) kedua yang dimiliki anak / orang berbakat ialah kreativitas sebagai
kemampuan umum untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan
memberikan gagasan – gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan
masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan – hubungan
baru antara unsur – unsur yang sudah ada sebelumnya.
·
Pengikatan diri terhadap tugas
Kelompok
karakteristik yang ketiga yang ditemukan pada individu yang kreatif produktif
ialah pengikatan diri terhadap tugas sebagai bentuk motivasi yang internal yang
mendorong seseorang untuk tekun dan ulet mengerjakan tugasnya, meskipun
mengalami macam – macam rintangan atau hambatan, menyelesaikan tugas yang
menjadi tanggung jawabnya, karena ia telah mengikatkan diri terhadap tugas
tersebut atas kehendaknya sendiri.
Galton meskipun menganut pandangan
dasar genetis untuk keberbakatan dan “ genius “, namun dia percaya bahwa
motivasi intrinsic dan kapasitas untuk bekerja keras merupakan kondisi yang
perlu untuk mencapai prestasi unggul.
Manfaat dari definisi Renzulli ialah
melihat keterkaitan antara tiga kelompok ciri sebagai persyaratan keberbakatan:
kemampuan umum, kreativitas, dan motivasi ( pengikatan diri terhadap tugas).
Jadi, menurut definisi Renzulli,
seseorang yang memiliki kreativitas pasti berbakat, tetapi seseorang yang
berbakat belum tentu memiliki kreativitas.
kelompok 6 : Nia Kezia Naftalin
Sheila Henggriani
Venta Oktavia
Kelas : 1 PA 14
kelompok 6 : Nia Kezia Naftalin
Sheila Henggriani
Venta Oktavia
Kelas : 1 PA 14