TUGAS PORTOFOLIO 4
Pembelajaran Anak Berbakat
A. Ciri-Ciri
Anak Berbakat
1.
Si anak memiliki ciri khas
Anak yang memiliki ciri khas biasanya akan nampak saat
dirinya sedang bermain besama teman-teman sebayanya. Si anak akan bertingkah
laku yang lebih dewasa sehingga ketika bermain dengan teman seusianya cenderung
memisah. Namun, bukan berarti si anak tak mau bermain dan berkumpul dengan
teman seusianya. Si anak sangat bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
2. Si anak memiliki cara belajar yang
berbeda
Si anak cenderung tidak bisa diam dan aktif terhadap
hal-hal baru. Selain itu, si anak juga lebih suka untuk mengeksplor dan
mempelajari lebih lanjut sesuatu yang ada di sekelilingnya. Namun, tidak mau
diam bukan berarti si anak hiperaktif.
3. Gaya bahasanya lebih dewasa
Si anak lebih cepat menyerap bahasa orang dewasa dan
menirukannya. Selain itu, si anak akan lebih cepat untuk menjawab
pertanyaan yang diajukan kepadanya.
4. Si anak memiliki kosakata yang
banyak
Karena kemampuannya untuk menyerap bahasa lebih cepat,
si anak jadi memiliki kosakata yang lebih banyak. Dengan begitu, si anak jadi
mengerti kata-kata yang diucapkan kepadanya. Bahkan, si anak bisa menyebutkan
secara terperinci baik itu mengenai benda atau saat menjawab pertanyaan yang
diberikan kepadanya.
5. Si anak memiliki keterampilan yang
lebih
Keterampilan lebih yang dimilikinya itu, seperti
memakai baju sendiri, memegang benda dengan posisi yang benar tanpa kesulitan,
dan keterampilan lainnya. Keterampilan tersebut dapat dimiliki si anak jika
dilatih dengan kegiatan berenang, bermain tenis, dan olahraga lainnya. Dengan
berolahraga dapat melatih kemampuan motorik kasarnya.
6. Si anak gemar mengoleksi benda
Anak berbakat akan lebih senang untuk mengumpulkan
benda-benda kesukaannya. Misalnya, mainan, baju, hiasan, dan lain sebagainya.
Hal tersebut dikarenakan si anak menyukai bentuknya, warnanya, serta modelnya.
Sehingga si anak gemar memilih-memilih atau mengelompokkan benda-benda
kesukaannya itu.
7. Si anak gemar membaca
Saat usia si anak 1 tahunan, dirinya akan mampu untuk
membedakan gambar yang posisinya terbalik. Selain si itu, si anak juga akan
menunjukkan gerakan kepala dari kiri ke kanan seolah-olah dirinya sedang
membaca. Hampir 50 persen anak yang berbakat sudah bisa membaca sejak usianya
2-2,5 tahun. Untuk merangsang anak agar suka membaca, dapat dilatih
dengan mendongengkan buku atau sering bercerita kepadanya.
8. Memiliki kemampuan logika
Anak berbakat akan mudah memahami benda-benda yang
besar dan kecil, serta membedakan banyak dan sedikit. Selain itu, si anak juga mengerti
mengenai berapa lama, berapa jauh, dan berapa banyak. Dan anak berbakat juga
bisa membedakan atas dan bawah, kiri dan kanan, serta maju dan mundur.
9. Memiliki daya ingat yang cukup baik
Daya ingat anak berbakat sangat tinggi. Misalnya, si
anak mampu mengingat kejadian yang sudah lama dan mampu untuk mengungkapkannya
kembali dengan baik.
10. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
Anak berbakat cenderung lebih banyak bertanya terhadap
apa yang belum dimengerti. Jika si anak banyak bertanya pada apa yang tidak
diketahuinya, maka orangtua harus memberikan jawaban untuknya. Berilah jawaban
dengan baik dan jangan biarkan si anak tanpa jawaban.
11. Pandai bersosialisasi
Anak berbakat akan lebih senang untuk bermain dengan
teman di atas usianya. Dirinya akan merasa nyaman bermain dengan teman yang
usianya lebih tua darinya. Sedangkan, saat bermain dengan teman seusianya si
anak akan merasa tidak nyaman.
12. Memiliki energi yang kuat
Setiap beraktivitas, si anak selalu bersemangat karena
dirinya memiliki energi yang kuat.
Itulah ciri-ciri anak berbakat.
Setelah mengetahui ciri-ciri tersebut, apakah Anda termasuk anak yang berbakat?
Jika sudah mengetahui bakat si anak, maka sebagai orangtua Anda perlu mengasah
dan membimbingnya dengan baik. Berilah stimulasi-stimulasi yang cocok
untuknya agar si anak bisa mengembangkan bakatnya dengan baik.
B. Implikasi Dalam Pembelajaran (Teori
Barbe dan Renzulli)
1. Pertama-tama guru perlu memahami
diri sendiri, karena anak yang belajar tidak
hanya dipengaruhi oleh apa yang dilakukan guru, tapi
juga bagaimana guru melakukannya.
Mustahil mengharapkan seseorang dapat memahami
kebutuhan, perasaan, dan perilaku orang lain, jika ia tidak mengenal diri
sendiri. Dalam menghadapi siswa-siswanya, guru yang baik selalu menilai
kemampuan, persepsi, motivasi, dan perasaan-perasaanya sendiri. Guru perlu
menyadari baik kekuatan-kekuatan maupun kelemahan-kelemahannya. Anak berbakat
akan paling maju di bawah bimbingan guru yang memiliki kecerdasan cukup tinggi,
memiliki pengetahuan umum yang luas, serta menguasai mata pelajaran yang
diajarkannya secara cukup mendalam.
Jika guru pada saat-saat tertentu tidak mengetahui
sesuatu dan tidak dapat menjawab pertanyaan siswanya, adalah lebih baik
mengatakan “Saya tidak tahu: marilah kita cari jawabannya bersama-sama!” atau
“Berilah saya waktu untuk memikirkannya!” Jawaban seperti ini akan lebih
mendapat penghargaan dan kepercayaan siswa daripada jika guru menjawab asal
saja. Mengapa? Karena anak berbakat bersifat kritis, mempunyai kemampuan
penalaran yang tinggi, dan suka mempertanyakan segala sesuatu.
Guru perlu juga menguji perasaan-perasaannya terhadap
anak berbakat. Sikap menguji atau mempertanyakan dari anak berbakat dapat
menjengkelkan guru yang bersifat otoriter. Penjelasan guru yang biasanya
diterima begitu saja oleh kebanyakan anak mungkin diragukan oleh anak berbakat.
Jika guru menunjukkan perasaan tidak senang oleh pertanyaan-pertanyaan anak
berbakat, ia dapat mematikan rasa ingin tahu anak, sedangkan guru yang terbuka
terhadap gagasan dan pengalaman baru akan meluaskan dimensi minat anak.
2. Di samping memahami diri sendiri,
guru guru perlu memiliki pengertian tentang keberbakatan.
Oleh karena itu, guru yang akan membina anak berbakat
perlu memperoleh informasi dan pengalaman mengenai
keberbakatan, tentang apa yang diartikan tentang keberbakatan, bagaimana
cirri-ciri anak berbakat, dan dengan cara-cara apa saja kebutuhan pendidikan
anak berbakat dapat terpenuhi. Dengan mengetahui kebutuhan-kebutuhan pendidikan
anak berbakat, guru akan menyadari bahwa anak-anak ini memerlukan pelayanan
pendidikan khusus yang terletak di luar jangkauan kurikulum biasa.
3. Setelah anak berbakat diidentifikasi,
guru hendaknya mengusahakan suatu lingkungan belajar sesuai dengan perkembangan
yang unggul dari kemampuan-kemampuan anak.
Sehubungan dengan ini guru hendaknya lebih berfungsi
sebagai fasilitator belajar daripada sbagai instructor (pengajar) yang menentukan
semuanya. Fungsi pendidik adalah mempersiapkan siswa untuk belajar seumur
hidup. Setiap anak dilahirkan dengan rasa ingin tahu. Ia terbuka terhadap
pengalaman baru dan belajar dari pengalamannya sesuai dengan kebutuhannya.
Hanya sayang, pada waktu anak mulai masuk sekolah sering dorongan alamiah untuk
belajar ini terkekang karena kurikulum yang kaku dan program belajar yang tidak
beragam (berdiferensiasi), artinya tidak disesuaikan dengan kemampuan dan minat
anak.
Jika dorongan alamiah ini terhambat di sekolah, rasa
ingin tahu anak akan mati dan berganti menjadi sikap apatis, acuh tak acuh.
Karena itu, diperlukanmotivasi eksternal (berupa dorongan, pujian, teguran dari
guru dan orang tua) dan system penghargaan (nilai-nilai prestasi belajar, angka
rapor) untuk menumbuhkan minat anak. Terutama anak yang cerdas dan berbakat
dengan rasa ingin tahu yang kuat dan minat yang luas akan merasa terhambat
dengan kurikulum yang hanya berorientasi pada mayoritas anak.
4. Guru anak berbakat lebih banyak
memberikan tantangan daripada tekanan.
Prakarsa dan keuletan anak berbakat membuatnya
tertarik terhadap tantangan. Ia senang menguji kemampuan dan penglamannya
terhadap tugas yang bermakna baginya. Ia merasa tertantang untuk menjajaki hal
yang sulit dan belum diketahui. Anak yang berbakat dan kreatif cepat bosan
dengan tugas-tugas rutin dan yang hanya mengulang-ulang.
5. Guru anak berbakat tidak hanya
memperhatikan produk atau hasil belajar siswa, tetapi lebih-lebih proses
belajar.
Macam kegiatan belajar yang lebih berorientasi kepada
proses daripada terhadap produk semata-mata dapat dilihat dari contoh-contoh
berikut ini.
· Pemecahan
masalah dengan lebih menekankan pada proses memperoleh
jawaban daripada jawabannya sendiri.
· Membuat
klasifikasi (penggolongan).
· Membandingkan
dan mempertentangkan.
· Membuat
pertimbangan sesuai dengan criteria tertentu.
· Menggunakan
sumber-sumber (kamus, ensiklopedi, perpustakaan).
· Melakukan
proyek penelitian.
· Melakukan
diskusi.
· Membuat
perencanaan kegiatan.
· Mengevaluasi
pengalaman.
6. Guru anak berbakat lebih baik
memberikan umpan-balik daripada penilaian.
Agar menjadi orang dewasa yang mandiri dan percaya
pada diri sendiri, anak harus belajar bagaimana menilai pengalaman dan prestasi
belajarnya. Anak yang berbakat cukup mampu melakukan penilaian diri sejak
mereka masuk sekolah. Guru perlu memberi umpan-balik dan model prilaku, namun
seyogyanya anaklah yang menilai diri sendiri.
Guru dapat memberikan umpan-balik dengan membuat
catatan yang menyatakan dimana letak kesalahan anak dan bagaimana ia sendiri
dapat memperbaikinya. Jika nilai dalam bentuk angka harus diberikan, maka
sebaiknya dilengkapi dengan catatan penjelasan.
7. Guru anak berbakat harus menyediakan
beberapa alternatif strategi belajar.
Termasuk salah satu hal penting yang perlu diketahui
anak ialah bahwa ada lebih dari satu cara untuk mencapai sasaran atau tujuan,
ada macam-macam kemungkinan jawaban terhadap satu masalah, ada beberapa cara
untuk mengelompokkan objek, dan ada beberapa sudut pandang dalam diskusi.
Hendaknya anak diperbolehkan menjajaki beberapa cara
atau jalan untuk mencapai tujuan. Kreativitas akan berkembang dalam suasana
yang memberika kebebasan untuk menyelidiki. Jika anak tidak dengan sendirinya
melihat macam-macam jalan yang dapat ditempuh, hendaknya guru mengarahkan
sehingga ia dapat melihat adanya macam-macam alternative strategi belajar.
8. Guru hendaknya dapat menciptakan
suasana di dalam kelas yang menunjang rasa percaya diri anak serta dimana anak
merasa aman dan berani mengambil resiko dalam menentukan pendapat dan
keputusan.
Hendaknya setiap anak merasa aman untuk mencoba
cara-cara baru dan menjajaki gagasan-gagasan baru di dalam kelas. Banyak anak
yang kreatif terlambat dalam ungkapan diri karena takut mendapat kritik, takut
gagal, takut membuat kesalahan, takut tidak disenangi guru, atau takut tidak
memenuhi harapan orang tua.
Dengan menciptakan suasana di dalam kelas dimana
setiap anak merasa dirinya diterima dan dihargai, serta guru menunjukkan bahwa
ia percaya akan kemampuan anak, maka akan terpupuk rasa harga diri anak.
C. Kurikulum Berdiferensi Untuk Anak
Berbakat
Kegunaan kurikulum berdiferensasi
dan perbedaannya denga kurikulum umum.
Kegunaaan Kurikulum berdiferensiasi
sangat penting untuk anak berbakat karena anak diajarkan :
a.
Beragam cara
agar siswa dapat mengeksplorasi kurikulum.
Dalam kaitan dengan pem-belajaran berdiferensiasi,
maka para siswa memiliki kebebasan yang luas untuk mengeksplor kurikulum yang dibutuhkan
dan sesuai dengan perkembangan fisik dan mentalnya. Mereka akan memilih dan
memilah kurikulum (muatan lokal) yang sesuai dengan kondisinya.
b.
Beragam
kegiatan atau proses yang masuk akal sehingga siswa dapat
mengerti dan memiliki informasi dan ide.
Proses belajar mengajar harus dapat mengembangkan cara
belajar siswa untuk mendapatkan, menge-lola, menggunakan dan meng-komunikasikan
informasi yang di-perlukan. Siswa harus terlibat secara aktif dalam proses
tersebut baik secara individual ataupun kelompok.
c.
Beragam
pilihan dimana siswa dapat mendemonstrasikan apa yang telah
mereka pelajari.
Proses pembelajaran ber-diferensiasi harus memberikan
ruang yang luas kepada anak didik untuk mendemostrasikan apa- apa yang telah
mereka pelajari. Hal ini sangat bermanfaat untuk: Pertama, anak didik belajar
menyampaikan atau mengkomunikasikan temuan dan informasi yang dimilikinya;
Kedua, anak didik belajar mengapresiasi karya atau infomasi yang disampaikan
orang lain (teman); Ketiga, anak didik belajar untuk mendapat masukan, kritikan
dan sanggahan terhadap penemuan atau informasi yang disampikan kepada orang
lain. (Tomlison, 1995).
Perbedaan Kurikulum Berdiferensiasi dengan Kurikulum
Umum yaitu :Kurikulum berdiferensiasi (differ-rentiation instruction) adalah
kurikulum pembelajaran yang memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak.
Walaupun model pengajaran ini memperhatikan atau berorientasi pada
perbedaan-perbedaan individual anak, namun tidak berarti pengajaran harus
berdasarkan prinsip satu orang guru dengan satu orang murid. Berbeda dengan
kurikulum reguler yang berlaku bagi semua siswa, kurikulum berdiferensiasi
bertujuan untuk menampung pendidikan berbagai kelompok belajar, termasuk
kelompok siswa berbakat. Melalui program khusus, siswa berbakat akan memperoleh
pengayaan dari materi pelajaran, proses belajar dan produk belajar. Berikut
penjelasan lebih lanjut perbedaan antara Kurikulum berdiferensiasi dengan
Kurikulum Umum :
1.
Kurikulum
berdiferensiasi dapat mengubah bagian-bagian tertentu yang kurang sesuai.
Karena anak berbakat memiliki kemampuan memahami
pelajaran dan pengetahuan yang melampaui anak pada umumnya, biasanya pemberian
materi kepada anak berbakt lebih menyesuaikan kemampuan anak. Sehingga, ada
beberapa bagian yang diterima anak umum di kelas tetapi tidak diterima oleh
anak berbakat.
2.
Kurikulum
berdiferensiasi Mengurangi kegiatan-kegiatan yang terlalu rutin. Seperti
yang telah dijelaskan sebelumnya, anak berbakat
memiliki tingkat kemampuan memahami pelajaran yang lebih tinggi dibandingkan
anak umum, jadi beberapa kegiatan atau pelajaran yang dapat dikerjakan sendiri
dan tanpa bantuan berarti dari pendidik sebaiknya dikurangi.
3.
Kurikulum
berdiferensiasi Meluaskan dan mendalami materi. Karena sifat yang
cenderung kurang puas dan mendetail, pemberian materi
pembelajaran kepada anak berbakat sebaiknya lebih diluaskan dan mendalam.
4. Kurikulum
berdiferensiasi menyesuaikan keberbakatan anak tidak seperti Kurikulum Umum.
5.
Kurikulum
berdiferensiasi Berorientasi dengan proses. Maksudnya, kegiatan
belajar mengajar menekankan perkembangan
keterampilan dan proses berpikir daripada hanya materi
6.
Kurikulum
berdiferensiasi Berpusat pada kegiatan aktif. Yaitu kegiatan belajar
sepenuhnya mengikutsertakan anak secara aktif.
Sehingga, dapat menghidupkan suasana keilmuan yang penuh akan diskusi dan
saling bertukar pikiran.
7.
Kurikulum
berdiferensiasi menerapkan tugas berakhir terbuka.Dengan asas ini
tidak ada istilah “benar” dan “salah” dalam hasil
tugas siswa, tetapi seluruhnya berdasarkan pengalaman setiap anak, Memungkinkan
anak memilih. Asas ini memberikan peluang kepada setiap anak sesuai dengan
kebutuhan, minat, dan kemampuan masing-masing. Sehingga, sekolah seharusnya
menyediakan sarana atas minat dan bakat anak.
Daftar
Pustaka :
Nama
Kelompok :
1. Nia Kezia N
2.
Sheila
henggriani
3. Venta O