BELAJAR DAN MENGAJAR SECARA KREATIF
Belajar dan mengajar itulah proses
yang dilakukan dalam dunia pendidikan. Hal ini bisa diuraikan menjadi 2 aspek:
1. Belajar
Berarti hal ini ditujukan untuk kepada siswa. Karena
subjek yang melakukan belajar adalah siswa/murid/mahasiswa. Belajar memang
kegiatan yang dilakukan tanpa mengenal tepat, orang, ataupun waktu. Maka ada
istilah belajar bisa dimana saja, oleh siapa saja, dan kapan saja. Jadi belajar
sebenarnya tidak bisa diartikan secara sempit hanya untuk murid atau siswa atau
mahasiswa saja.
2. Mengajar
Berarti kata ‘mengajar’ mengarah kepada sosok
pengajar, yaitu guru/dosen. Orang yang dipercaya untuk bisa ‘memberi pelajaran’
kepada muridnya, membagikan ilmu yang didapat kepada anak didiknya. Inilah
tugas mulia dari para pengajar, yang harus diakui bahwa ini tidaklah mudah.
I. ARTI BELAJAR KREATIF
A. Pengertian belajar kreatif
Kreativitas belajar terdiri dari dua
kata yaitu kreativitas dan belajar, dalam pengertian kreativitas beberapa ahli
berpendapat dengan berdasarkan latar belakang dan kebudayaan yang
berbeda-beda,diantaranya sebagai berikut : James R. Evans mendefinisikan
kreativitas sebagai ketrampilan untuk menentukan pertalian baru, melihat subyek
dari perspektif baru dan membentuk kombinasi-kombinasi baru dari dua atau lebih
konsep yang telah tercetak dalam pikiran.
1. Kreativitas memerlukan adanya modal, yaitu konsep
dalam pikiran untuk dilahirkan kembali dalam bentuk yang berbeda. Dalam
pemecahan masalah, dia tidak harus mencari jawaban baru tetapi dia hanya perlu
menggali informasi-informasi dalam pikirannya untuk dikaitkan dan dituangkan
dalam bentuk solusi terhadap problem tersebut. Sedangkan Rogers menekankan
bahwa sumber dari kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan
diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang, dan menjadi matang,
kecenderungan untuk mengekspresikan dan mengaktifkan semua kemampuan organisme.
2. Kreativitas dapat dinilai ketika hal tersebut
tertuang dalam suatu tindakan nyata, ketika pemikiran baru belum dituangkan,
maka itu adalah proses menuju kreativitas. Jadi, kreativitas tetaplah berpusat
di otak manusia, kreativitas terjadi karena keseluruhan bagian otak bekerja
secara bersamaan, terpadu pada satu waktu tertentu dengan tetap melakukan
spesialisasi masing-masing, otak dengan sigap menanggapi setiap informasi yang
masuk. Kadar pengelolaan otak akan sangat menentukan tingkat kreativitas
seseorang, karena itu otak harus dilatih, tidak hanya dengan makanan bergizi
tapi dengan latihan berfikir yang terus-menerus.
3. Untuk dapatmelahirkan kreativitas, seseorang harus
dapat memanfaatkan kedua sifat otak (kiri dan kreativitas kanan). Otak kiri
yang bersifat logika, berurutan, lisan, pertambahan, dan dominan. Sedangkan
otak kanan bersifat emosi, lompatan, visual, menyeluruh, dan tersembunyi.
Akhir-akhir ini, istilah otak kanan telah digunakan sebagai cara popular untuk
menyatakan kreatif, artistik, dan rapi. Kreativitas muncul dari interaksi yang
luar biasa antara kedua otak.Kreativitas adalah suatu ketrampilan.
4. Dikarenakan kreativitas merupakan hasil
sebuah latihan maka harus diupayakan secara terus- menerus agar tidak menjadi
lumpuh.
5. Artinya, siapa saja yang berniat untuk menjadi
kreatif dan ia mau melakukan latihan-latihan yang benar, maka ia akan menjadi
kreatif.
Jadi, kreativitas belajar adalah
suatu keterampilan yang dihasilkandari sebuah latihan- latihan (proses
pembelajaran) yang diupayakan terus menerus agar tidak menjadi lumpuh.
B. Proses belajar kreatif
Beberapa hal yang perlu diperhatikan
oleh seorang guru yang professional dalam menyusun program pembelajaran yang
dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam belajar yaitu:
a. Menciptakan lingkungan di dalam kelas yang
merangsang belajar kreatif
-Memberikan Pemanasan
Sebelum memulai dengan kegiatan yang menuntut prilaku
kreatif siswa sesuai dengan rencana pelajaran lebih dahulu diusahakan sikap
menerima (reseptif) di Kalangan siswa, terutama berlaku apabila siswa
sebelumnya baru saja terlibat dalam suatu penguasaan yang berstruktur,
mengerjakan soal fiqih, tugas atau kegiatan, bertujuan meningkatkan pemikiran
kreatif menuntut sikap belajar yang berbeda lebih terbuka dan tertantang
berperanserta secara aktif dengan memberikan gagasan-gagasan sebanyak mungkin
untuk itu diberikan pemanasan yang dapat tercapai dengan memberikan
pertanyaan pertanyaan terbuka dengan menimbulkan minat dan rasa ingin tahu
siswa.
-Pengaturan Fisik
Membagi siswa dalam kelompok untuk mengadakan diskusi
kelompok.
· -Kesibukan
Dalam Kelak
kegiatan belajar secara kreatif sering menuntut lebih
banyak kegiatan fisik, dan diskusi antara siswa oleh karena itu guru hendaknya
agak tenggang rasa dan luwes dalam menuntut ketenangan dan sebagai siswa tetap
duduk pada tempatnya. Guru harus dapat membedakan kesibukan yang asyik sert
suara-suara yang produktif yang menunjukkan bahwa siswa bersibuk diri secara
kreatif.
· -Guru
sebagai Fasilitator
Guru dan anak yang berbakat lebih berperan sebagai
fasilitator dari pada sebagai pengarah yangmenentukan segalagalanya baigsiswa.
Sebagai fasilitator gurumendorong siswa (memotivator) untuk menggabungkan
inisiatif dalam menjajaki tugas-tugas baru. Guru harus terbuka menerima gagasa
dari semua siswa dan gur harus dapat menghilangkan ketakutan, kecemasan siswa
yang dapt menghambat dan pemecahan masalah secara keatif (Munandar, 1992 :
78-81).
b. Mengajukan dan mengundang pertanyaan
Dalam proses belajar mengjar, diperlukan keterampilan
guru baik dalam mengajukan pertanyaan kepada siswa maupun dalam mengundang
siswa untuk bertanya.
-Teknik Bertanya
Pertanyaan yang merangsang pemikiran kreatif adalah
pertanyaan semacam divergen atau terbuka. Pertanyaan semacam ini membantu siswa
mengembangkan keterampilan mengumpulkan fakta, merumuskan hipotesis, dan
menguji atau menilai informasi mereka.
Dengan mengajukan pertanyaan, guru memperoleh
informasi yang berharga dan berguna untuk :
ü Menimbulkan minat dan motivasi siswa
untuk berperan serta aktif.
ü Menilai persiapansiswa ddan sejauh mana
siswa telah menguasai bahan yang diberikan sebelumnya.
ü Mengulang kembali dan meringkas apa yang
telah diajarkan.
ü Membantu siswa melihat hubungan-hubungan
baru.
ü Merangsang pemikiran kritis dan
pengembangan sikap bertanya
ü Merangsang siswa untuk mencari sendiri
pengetahuan tambahan
ü Menilai pencapaian tujuan dan sasaran
belajar (Munandar, 1999 : 84)
-Metode Diskusi
Dalam metode dikusi, peran guru dangat menentukan
keberhasilan, guru berperan sebagai pasilitator yang mengenalkan masalah kepada
siwa dan memberikan informasi seperlunya yang mereka butuhkan unutk membahas
masalah. Guru memang diperlukan misalnya jika timbul kemacetan dalam diskusi
atau untuk menghindari kesalahan yang tersembunyi agar siswa tidak terlalu
menyimpang dari arah yang dituju.
-Mengajukan pertanyaan yang menantang (provokatif)
Salah satu cara untuk merangsang daya pikir kreatif
adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang (provokatif)
antara lain dengan menanyakan apa kemungkinan-kemungkinan akibat apabila suatu
kejadian yang telah terjadi, atau dengan menanyakan suatu kejadian yang telah
terjadi, atau dengan menanyakan kemungkinan-kemungnkinan akibat dari suatu
situasi yang memang belum pernah terjadi, tetapi siswa harus membayangkan apa
saja kemungkinan-kemungnkinan akibatnya andaikan kejadian atau situasi itu
terjadi di sini.
c. Memadukan perkembangan kognitif (berfikir), afektif
(sikap) dan Psikomotorik (perasaan).
Dalam rangka membangun manusia seutuhnya perlu ada
keseimbanganaantara semua aspek perkembangan yaitu perkembangan mental
intelektual, perkembangan social, perkembanan emosi (kehidupan perasaan) dan
perkembangan moral.
d. Menggabung pemikiran divergen dan pemikiran
konvergen
Pemikiran konvergen yang menuntut siswa mencari
jawaban tunggal yang paling tepat berdasarkan informasi yang diberikan sudah
tidak asing bagi siswa-siswa sekolah dasar. Pemikiran divergen atau pemikiran
kreatif sebaiknya menuntut siswa mencari sebanyak mungkin jawaban terhadap
suatu persoalan.
e. Menggabung proses berfikir dengan proses efektif
Contoh : Berfikir lancar, gabung dengan rasa ingin
tahu siswa yang rasa ingi tahunya kuat akan dapat menghasilkan gagasan-gagasan
atau cara pemecahan masalah.
Orisinalitas dalam berfikir akan paling berhasil jika
siswa tidak ragu-ragu dan berani mengamukakan pendapat yang berbeda dari
biasanya dikemukakan siswa-siswa lain.
C. Mengapa belajar kreatif itu
penting
Refinger (1980 : 9-13) dalam Conny Semawan
(1990:37-38) memberikan empat alasan mengapa belajar kreatif itu penting.
1. Belajar kreatif membantu anak menjadi berhasil guna
jika kita tidak bersama mereka. Belajar kreatif adalah aspek penting dalam
upaya kita membantu siswa agar mereka lebihmampu menangani dan mengarahkan
belajar bagi mereka sendiri.
2. Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan
untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak mampu kita ramalkan yang timbul di
masa depan.
3. Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar
dalam kehiduppan kita. Banyak pengalamankreatif yang lebih dari pada sekedar
hobi atau hiburan bagi kita. Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif dapat
mempengaruhi, bahkan mengubah karir dan kehidupan pribadi kita.
4. Belajar kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan
kesenangan yang besar.
D. Tiga tingkat belajar kreatif (model triffinger)
1. Teknik-teknik kreatif tingkat pertama: pengembangan
fungsi pemikiran divergen.
1) Pemanasan
Teknik pemanasan ini pada intinya merupakan kegiatan
prabelajar yang digunakan pada tahap awal pelajaran. Tahap pemanasan ini
mengupayakan adanya kondisi pelepasan pikiran pebelajar dengan cara pembebasan
diri dari peraturan-peraturan dan hukum-hukum berpikir yang berlaku. Pembelajar
dikondisikan untuk terbebas dari kebiasan menjawab dengan tepat, dari
batasan-batasan waktu, serta diarahkan untuk lebih banyak menghasilkan ide.
Dengan kegiatan pemanasan tersebut diharapkan pembelajar sudah masuk pada suasana
pemikiran yang siap untuk menelaah hal
dan masalah baru yang kan dipelajari pada tahapan pembelajaran
berikutnya.
dan masalah baru yang kan dipelajari pada tahapan pembelajaran
berikutnya.
2) Pemikiran dan perasaan berahir terbuka
Teknik pemikiran dan perasaan berahir ini pada intinya
ingin mengupayakan agar pembelajar terdorong memunculkan perilaku divergen.
Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara mengajukan pertayaan yang
memungkinkan pembelajar mengungkapkan segala peraaan dan pikiran sebagai
jawaban. Adapun kegiatan pemikiran dan perasaan pengakhiran terbuka (oopen-ended
thoughtand feeling) dapat dicontohkan sebagai berikut :
ü Andaikata pertanyaan ini dapat
diungkapkan melalui pertanyaan tentang situasi yang tidak benar atau sesuatu
yang bertentangan dengan fakta. Contoh: andaikata pemberantasan korupsi tidak
bisa tuntas ditahun-tahun ini, apa yang bakal terjadi ditahun 2012 nanti?
ü Peningkatan suatu produk. Pertanyaan ini
dapat dikemukakan melalui pengungkapan pemikiran pengembangan atau peningkatan
terhadap suatu kondisi yang telah ada. Contoh: bagaimana cara memperbaiki cara
belajar
yang biasa dilakukan sekarang.
yang biasa dilakukan sekarang.
ü Permulaan yang tidak selesai. Pertanyaan
ini dapat dikemukakan dengan menyajikan suatu kondisi yang belum selesai atau
belum sempurna, untuk dipikirkan kemungkinan penyelesaian atau penyempurnaanya.
Contoh: penyelesaian sebuah kasus, cerita, desain, rancangan dan
sebagainya.
sebagainya.
ü Pengguna baru dari objek-objek umum.
Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu benda atau hal untuk
dipikirkan fungsi lainya dilain fungsi yang lazim. Contoh: tali sepatu, kancing
baju, kumis, dan lain sebagainya.
ü Alternatif judul. Pertanyaan ini dapat
dikemukakan melalui penyajian suatu stimulasi untuk dipikirkan judulnya yang
tepat. Contoh: kepada pembelajar ditunjukkan naskah sebuah cerita, dan bisa
lukisan atau gambar-gambar tentang sesuatu.
ü Membantu siswa atau anak untuk mengajukan
pertanyaan. Kegiatan ini dilakukan mengingat pada biasanya siswa beranggapan
bahwa gurulah yang banyak mengajukan pertanyaan dalam konteks pembelajaran. Di
sini siswa diberikan kesempatan banyak untuk memikirkan banyak pertanyaan.
Melalui strategi pemikiran dan perasan terbuka ini diharapkan pembelajar akan
terangsang untuk meningkatkan rasa ingin tahunya, dan menguatkan minat untuk terlibat dalam aktivitas pembelajaran.
terangsang untuk meningkatkan rasa ingin tahunya, dan menguatkan minat untuk terlibat dalam aktivitas pembelajaran.
ü Sumbang Saran Teknik sumbang saran
(brainstorming) yang dikemukakakan oleh Osborn ini mengkondisikan agar
pembelajar lebih bersikap terbuka, lebih terbuka terhadap lingkungan, dan
produktif dalam melahirkan gagasan-gagasan. Agar teknik sumbang saran ni dapat
membuahkan hasil yang lebih baik, dalam pelaksanaanya perlu memperhatikan
aturan-aturan sebagai berikut:
-Kritik harus tepat waktu.
-Kebebasan
dalam memberikan gagasan Sangat penting untuk diketahui bahwa dalam teknik
sumbang saran ini keutamaanya terletak pada kuantitas ide, terlepas dari
kualitasnya.
-Penekanan
pada kuantitas.
-Kombinasi dan peningkatan gagasan.
-Penekanan pada kualitas.
-Tidak perlu mempersoalkan adanya gagasan yang sama.
-Daftar penulisan gagasan.
-Penyusunan sifat seperti halnya teknik yang lain,
teknik penyusunan sifat ini memiliki ciri guna tersendiri, yaitu untuk
merangsang munculnya banyak gagasan dalam memecahkan atau menganalisis satu
objek.
2. Teknik-teknik kreatif tingkat kedua: pengembangan
proses pemikiran dan perasaan yang majemuk.
1) Teknis analis morfologis. Teknik analis morfologis
ini merupakan gabungan teknik-teknik kreatif tingkat pertama yang telah
dikemukakan, yaitu teknik sumbang saran, teknik hubungan yang dipaksakan, dan
teknik penyusunan sifat. Teknik ini bertujuan agar pembelajar mampu
mengidentifikasi ide-ide baru, dengan cara mengkaji secara cermat bentuk dan
struktur masalah. Dengan mencermati struktur dari bagian-bagian utama dari masalah,
pembelajar dapat mengembangkan berbegai alternatif atau gagasan-gagasan dari
kombinasi unsur-unsur yang baru.
2)Teknik bermain peran dan sosiodrama. Bermain peran
dan sosiodrama merupakan teknik pembelajaran untuk menghadapi proses pemikiran
dan perasaan yang majemuk secara efektif. Teknik ini mengupayakan agar
pembelajar dapat menangani konflik, stres, dan masalah yang timbul dari
pengalaman dalam kehidupanya.
3)Synectics. Oleh penemuan synectics ini W.j.j. Gordon
(1980), teknik synectics merupakan teknik mempertemukan bersama berbagai macam
unsur dengan menggunakan kiasan (metafor) untuk memperoleh suatu pandangan yang
baru. Ada dua prinsip dasar dalam teknik ini adalah, pertama, membuat yang
asing menjadi yang lazim; dan kedua,membuat yang lazim menjadi yang asing,
keduanya melalui kiasan dan analogi. Analogi disini dimaksudkan sebagai suatu
pernyataan yang mengungkapkan kesamaan antara hal-hal atau gagasan-gagasan atas
dasar pembandingan.
3. Teknik kreatif tingkat ketiga: keterlibatan dalam
tantangan nyata.
Dalam tingkat ketiga ini teknik kreatif mengupayakan
keterlibatan pembelajar dalam masalah dan tantangan nyata. Ini bermaksud agar
kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna bagi para pembelajar untuk menghadapi
masalah nyata dalam kehidupanya. Pada tahap ini pembelajar telibat langsung
dalam pengajuan pertanyaan secara mandiri dan diarahkan sendiri. Adapun teknik
yang digunakan dalam tingkat ketiga ini adalah teknik pemecahan masalah (PMK)
secara kreatif. PMK ini merupakan teknik yang sistematik dalam mengorganisasi
dan mengolah keterangan dan gagasan, sehingga masalah dapat dipahami dan
dipecahkan secara imajinatif. Pemikiran yang logis, analitik dan divergen akan
terlibat keras dalam teknik ini.
Merancang suatu desain pembelajaran yang sifatnya
amat khusus bagi anak kreatif adalah tugas yang paling kompleks dan yang paling
sering diriset oleh para pakar, dan masih jauh dari pada sempurna. Namun begitu
ada beberapa petunjuk yang dapat kita peroleh dalam merancang kegiatan ini.
Dengan beranjak dari pengertian bahwa anak kreatif terus menerus memerlukan
stimulasi mental untuk mencapai perkembangan unik yang optimal, maka Renzulli (
Clark, 1986) memaparkan tujuh langkah kunci dalam merancang suatu desain
pembelajaran, yaitu mencakup :
a.Seleksi dan latihan guru.
b.Pengembangan kurikulum berdiferensiasi dalam
berbagai bidang untuk memenuhi kebutuhan belajar dalam segi akademis dan seni.
c.Prosedur identifikasi jamak.
d.Pematokan sasaran program yang sifatnya
terdiferensiasi.
e.Orientasi staf dan peningkatan sikap kerja sama.
f.Rencana evaluasi.
g.Peningkatan administrative.
Suatu panitia khusus dalam setiap sekolah perlu
diadakan, terdiri dari kepala sekolah guru, orang tua, konselor dan pegawai
administrasi yang bertanggung jawab atas kegiatan sehari-hari perlu dibentuk
dalam merancang program ini. Program seperti itu harus memenuhi beberapa
kriteria kunci (Clark,1986), yaitu program itu harus:
-Memberi kesempatan dan pengalaman yang sifatnya
khusus sehingga mereka terus-menerus dapat mengembangkan potensinya.
-Mengembangkan lingkungan bermutu untuk meningkatkan
intelegensi, bakat, perkembangan afektif dan intuitif.
-Memberi peluang untuk pertisipasi aktif dan
kooperatif antar siswa maupun dengan orang tua.
-Menyiapkan tempat, waktu, dan stimulasi bagi siswa
berbakat untuk menentukan sendiri kemampuanya.
-Memberi peluang pada siswa berbakat untuk bertemu
berbagai
individu berbakat untuk merasa tertantang mengembangkan dirinya.
individu berbakat untuk merasa tertantang mengembangkan dirinya.
-Memberi stimulasi pada siswa berbakat untuk menentukan
bidang
yang akan digelutinya dalam evolusi manusia dan menemukan apa
yang dapat mereka kontribusikan.
yang akan digelutinya dalam evolusi manusia dan menemukan apa
yang dapat mereka kontribusikan.
II. MENGAJAR KREATIF
A. Memberikan Pemanasan
Teknik pemanasan ini pada intinya merupakan
kegiatan peserta didik yang digunakan pada tahap awal pembelajaran. Tahap
pemanasan ini mengupayakan adanya kondisi pelepasan pikiran peserta didik
dengan cara pembebasan diri dari peraturan-peraturan dan hukum-hukum berpikir
yang berlaku. Peserta didik dikondisikan untuk terbebas dari kebiasaan menjawab
dengan tepat, dari batasan batasan-batasan waktu, serta diarahkan untuk lebih
banyak menghasilkan ide.
Dengan kegiatan pemanasan tersebut diharapkan
peserta didik sudah masuk pada suasana pemikiran yang siap untuk menelaah hal
dan masalah baru yang akan dipelajari pada tahap pembelajaran berikutnya.
B. Pemikiran dan Perasaan Terbuka
Cara yang paling sederhana untuk
merangsang pemikiran kreatif ialah dengan mengajukan pertanyaan yang memberikan
kesempayan timbulnya berbagai macam jawaban sebagai ungkapan pikiran dan
perasaan serta dengan membantu siswa mengajukan pertnayaan. Contoh-kegiatan
pemikiran dan perasaaan terbuka
1. Menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai
2. Mencari penggunaan baru dari benda sehari-hari
3. Meningkatkan atau memperbaiki suaut produk atau benda
(Munandar, 1999 : 100-1003).
III. MEMUPUK IKLIM BELAJAR KREATIF
A. Menerapkan Strategi Memupuk Iklim Belajar Kreatif
Ada beberapa kajian ( Niu & Sternberg 2003;
Torrance 1961) yang telah dilakukan untuk menjawab persoalan pertama yang
penting itu. Niu & Sternberg (2003) telah menjalankan satu kajian untuk
menganalisa dua cara yang digunakan untuk meningkatkan kreativiti 96
orang pelajar di sebuah Sekolah Tinggi di Beijing, China. Para pelajar ini
telah diminta untuk menghasilkan satu hasil seni yaitu kolaj. Dalam kajian ini
para pelajar telah dibahagikan kepada 3 kumpulan yaitu kumpulan
pertama tidak menerima sebarang arahan supaya menjadi kreativiti apabila
menghasilkan kolaj, kumpulan kedua telah menerima arahan supaya menjadi kreatif
apabila menghasilkan kolaj dan kumpulan ketiga pula telah diajar secara
terperinci bagaimana menghasilkan kolaj yang kreatif. Kolaj yang
dihasilkan oleh para pelajar tersebut telah diadili secara subjektif dan
objektif. Hasil kajian ini mendapati bahawa para pelajar yang telah diminta
menjadi kreatif telah menghasilkan kolaj yang kreatif berbanding dengan
rakan-rakan mereka yang tidak menerima sebarang arahan supaya menjadi kreatif.
Kajian juga mendapati bahawa pelajar yang diajar secara terperinci bagaimana
menghasilkan kolaj yang kreatif telah menghasilkan kolaj yang paling kreatif.
Dapatan kajian ini menunjukkan kepada kita bahawa kreativiti pelajar boleh
ditingkatkan dalam bilik darjah melalui arahan-arahan yang disampaikan
oleh guru kepada para pelajarnya.
Di samping itu, Torrance (1961)
telah mengajar guru-guru di beberapa buah sekolah di Amerika Syarikat lima
prinsip pengajaran kreatif iaitu: (1) menghormati soalan-soalan yang
dikemukakan oleh pelajar; (2) menghormati idea-idea imaginatif yang dikeluarkan
oleh pelajar; (3) tunjukkan kepada pelajar bahwa idea-idea yang mereka
keluarkan mempunyai nilai tersendiri; (4) benarkan pelajar melakukan
perkara-perkara tertentu untuk tujuan latihan semata-mata tanpa sebarang
penilaian; dan (5) kaitkan sebarang penilaian yang guru lakukan dengan sebab
dan akibat. Para guru tersebut telah menjalankan pengajaran dengan mengikut
kelima-lima prinsip ini selama empat minggu. Satu lagi kumpulan guru yang
dikawal telah menjalankan pengajaran mereka mengikut prosedur biasa untuk tempoh
yang sama. Ujian kreativiti yang dilakukan terhadap pelajar sebelum dan sesudah
kajian ini dilakukan menunjukkan bahawa terdapat peningkatan yang mendadak
terhadap pelajar yang diajar oleh guru menggunakan lima prinsip pengajaran
kreativiti berbanding dengan pelajar yang diajar oleh guru mengikut prosedur
biasa. Mereka mendapat markah yang lebih tinggi untuk keaslian , keluwesan,
kefleksibelan dan penghuraian (Stein, 1974).
Sebagai tambahan, Amabile (1983)
mendakwa bahawa sesiapa yang memiliki kebolehan kognitif yang biasa boleh
bercita-cita untuk menghasilkan sesuatu yang kreatif dalam bidang tertentu.
Cropley (1992) pula menambah bahwa semua pelajar tanpa mengira tahap kepintaran
mereka memilikinkemampuan untuk berfikir secara konvergen dan divergen. Pemikiran
divergen adalah pemikiran yang dikaitkan dengan kreativiti. Bagi menjawab
soalan yang kedua yaitu bagaimanakah kreativiti boleh dipertingkatkan, beberapa
percobaan telah dilakukan untuk membangunkan pelbagai pendekatan untuk
meningkatkan kreativiti dalam bilik darjah. Secara keseluruhannya pendekatan
itu boleh dibahagikan kepada tiga kategori yaitu: (a) Strategi-strategi umum
yang hanya melibatkan perubahan dalam stail pengajaran guru atau pedagogi (b)
Pendekatan berstruktur yang melibatkan penggunaan teknik-teknik khusus (c)
Pendekatan penyelesaian masalah terhadap isi mata pelajaran. Disebabkan
kekangan masa dan tenaga, perbincangan ini akan memberikan tumpuan kepada
strategi-strategi umum yang hanya melibatkan perubahan dalam stail pengajaran guru.
B. Menjelaskan tentang saran-saran dalam memupuk
belajar kreatif
1. Menghargai kreativitas siswa.
2. Bersikap terbuka terhadap
gagasan-gagasan baru.
3. Mengakui dan menghargai adanya perbedaan individu.
3. Mengakui dan menghargai adanya perbedaan individu.
4. Bersikap menerima dan menunjang
anak.
5. Menyediakan pengalaman mengajar
yang berdiferensisasi.
6. Memberikan struktur dalam mengajar
sehingga anak tidak merasa.
7. Ragu-ragu tetapi di lain pihak
cukup luwes sehingga tidak menghamabat pemikiran, sikap dan perilaku kreatif
anak.
8. Setiap anak ikut mengambil bagian
dalam merencanakan pekerjaan sendiri dan pekerjaan kelompok.
9. Tidak bersikap sebagai tokoh yang
“maha mengetahui” tetapi menyadari
keterbatasannya sendiri.
keterbatasannya sendiri.
Sumber:
Nama Kelompok
1. Nia Kezia N
2. Sheila Henggriani
3. Venta O
Kelas : 1PA14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar